Curhat Hati Bola


ISL dan LPI kompetisi yang ada di Indonesia sama saja, tidak ada bedanya. meski LPI mengklaim bahwa klub yang ada di LPI adalah profesional.

mungkin yang membedaka hanya masalah sumber dana. Klub LPI dari sponsor dan lain-lain, sedangkan klub ISL murni dari APBD.

tengok saja para perangkat pertandingannya, mulai dari wasit, fasilats pendukung, stadion yang tidak memadai dan para pemain itu sendiri yang tidak profesional. hal ini hampir sama yang terjadi di kompetisi ISL.

apalagi bicara mengenai suporter khususnya di ISL, malah sangat memprihatinkan. baru saja terjadi yang sangat disayangkan dimana suporter marah gara-gara klub kesanyanganya kalah dari tim tamu. padahal para pemain dari kedua klub akur-akur aja, tidak ada masalah. lalu sampai kapan para suporter merasa dewasa dan menerima kekalahan alias legowo. menang kalah itu adalah biasa, memmang sangat sulit untuk menerima kekalahan apalagi klub yang kita sangangi, tapi itulah pertandingan/kompetisi.

mengenai Wasit, memang menjadi pengadil itu sangat sulit, apalagi olahraga sepakbola, ini memerlukan suatu energi sangat banyak (fit). dia harus berlari sambil konsentrasi untuk memimpin sebuah pertandingan dan memerlukan suatu enteleginsi yang sangat tinggi guna memutuskan maslah pada saat memimpin pertandingan. wajar kadang dalam mengambil keputusan kurang tepat dan kurang pas bagi para pemain dan para penontonya.

Semestinya semua para pemain bola perpandangan sama, bahwa itu main bola merupakan suatu pekerjaan. sehingga pada saat main, para pemain tidak mempunyai niat untuk mencridai lawannya, karena mereka sama-sama mencari nafkah di sepakbola. dan para pemain berpikir 1000 kali pada saat ingin melakukan tackle pada lawannya. satu lagi yang paling penting, hendaknya para pemain menerima apapun yang diputuskan oleha wasit, hendaknya menghormati dan menghargai para pengadil tersebut. karena mereka juga mencari nafkah di sepakbola.

coba anda banyangkan seandainya dalam pertandingan tidak ada wasit, bahkan tidak ada yang mau jadi wasit atau pada saat pertandingan para wasit mogok tidak mau melanjutkan memimpin pertandingan…. jangan sampai pemain memukul wasit….

hal ini juga menimpa di kompetisi di LPI, karena tidak puas dengn keputusan wasit lalu dia memukul wasit.

hendaknya para pelaku sepakbola, mulai dari pemain,suporter, pelatih, dan wasit itu sendiri kirany dapat merepleksikan suatu persitiwa dan mengambil pelajaran dari semua yang telah terjadi di masa lalu, meski hal itu terjadi pada kompetisi ISL atau pun di kompetisi LPI.

meski banyak kompetisi yang berlebel super, profesional dan ajang kompetisi sepakbola Indonesia tapi para pelaku sepakbola itu sendiri tidak mau merubah mindset dan tidak mau mengambil pelajaran/hikmah dari peristiwa yang lalu.

Pos ini dipublikasikan di Ole Nasional dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s